Politik Seksualitas dan Modal Sosial Rizieq Shihab


Ini tulisan yang tidak dimuat oleh media manapun.. Hiks.... 



Kasus dugaan percakapan pornografi antara Rizieq Shihab dan Firza Husein menjadi salah satu fenomena yang banyak diperbincangkan saat ini, terlebih dengan tidak adanya Rizieq di Indonesia. Kasus ini tentunya sangat berpengaruh terhadap kepercayaan sosial masyarakat terhadap Rizieq. Untuk itu, artikel ini berbicara soal bagaimana kasus “chat” Rizieq Shibab dengan Firza Husein dapat melemahkan posisi tawar Rizieq dengan tergerusnya kepercayaan sosial masyarakat terhadap Rizieq.
Pada dasarnya apa yang dilakukan oleh Rizieq dan Firza Husein adalah hal yang bersifat privat, jika terbukti bahwa mereka melakukan, artinya tidak ada urusannya dengan negara. Yang bisa mempermasalahkan secara hukum adalah istrinya yang merasa dihianati, itupun masih masuk dalam kerangka hukum privat. Yang menjadikannya masalah bagi negara adalah jika perbuatan mereka melangar UU, yang sekarang sedang dirposes melalui UU Pornografi. Dengan kata lain, sex chat dan perselingkuhan menjadi permasalahan privat keluarga dan orang-orang yang berkaitan, namun ketika sex chat yang disertai gambar telanjang menjadi konsumsi publik maka ia menjadi permasalahan publik.
Di sisi lain, fenomena teknologi global juga telah berkontribusi dalam transformasi batas-batas privat dan publik. Ada banyak foto atau video seseorang di kamar mandi, kamar tidur, dan tempat lain yang notabene berada di ruang privat menjadi tidak privat lagi setelah diposting di media sosial. Seseorang yang baru memiliki sebuah akun medsos bisa semacam terhipnotis untuk selalu menyediakan waktu demi berfoto dan mempostingnya di akun tersebut. Di lain kasus, foto atau video yang bersifat privat dapat menjadi publik ketika akun kita diretas oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Hal seperti inilah yang sering terjadi pada aktor-aktor politik, sosial, budaya, dan seni, yang selanjutnya dapat mempengaruhi modal sosial yang dimiliki. Maka, yang menarik adalah, akankah kasus Rizieq dan Firza Husein mempengaruhi modal sosial dan politik yang ia miliki sebagai bagian dari FPI, ulama’, dan lain-lain?      

Kepercayaan Sosial
Ada beberapa bentuk modal (capital) seperti dijelaskan Buerdue dalam tulisannya yang berjudul The Forms of Capital, seperti modal sosial (social capital), modal budaya (cultural capital), dan modal ekonomi (economic capital). Jika melihat Rizieq, pastinya ia memeiliki tiga modal tersebut, namun pembahasan akan lebih berkutat pada dua modal yang awal. Modal sosial dimiliki seseorang ketika ia tergabung dalam komunitas tertentu dan ikut berkontribusi di dalamnya. Dengan begitu, seseorang dapat akses informasi, rekognisi, bahkan perlindungan dalam banyak hal. Dalam kasus ini, modal sosial Rizieq diperoleh dari komunitas di mana ia terlibat bahkan memimpinnya, seperti Front Pembela Islam (FPI). Selanjutnya, modal budaya adalah skill, ilmu, dan pengetahuan yang dimiliki seorang sehingga mampu mendapatkan status sosial. Maka, dengan modal budaya yang dimiliki Rizieq ia dapat memimpin FPI, mempengaruhi kebijakan dan menggerakkan banyak Muslim di Indonesia untuk turun ke jalan melakukan aksi di Jakarta. Dengan memiliki modal budaya, Rizieq mendapat kepercayaan sosial (social trust) yang menjadi bagian dari modal sosial yang ia miliki, dan selanjutnya menghasilkan kontrol sosial. Ini semua adalah kondisi politik yang ia miliki dan tentunya dapat berubah disebabkan oleh faktor-faktor tertentu, termasuk kasus yang sedang menimpa Rizieq.    
Apakah kasus Rizieq dapat mempengaruhi modal sosial yang dimilikinya? Jawabanya adalah ia, tapi pertanyaan selanjutnya adalah seberapa besar pengaruhnya terhadap modal sosial Rizieq? Pertanyaan kedua lebih mudah dijawab setelah proses hukum selesai dan melihat pergerakan FPI dan Rizieq. Menjawab pertanyaan pertama, saya berpendapat selama Chat Rizieq dan Firza belum terbukti benar-benar terjadi, maka Rizieq masih memiliki kepercayaan sosial yang tinggi di kelompoknya. Pasalnya di Indonesia ini tidak mudah menemukan orang fanatik pada kelompok tertentu hingga membela mati-matian. Bagi orang-orang ini, mendukung Rizieq adalah menyelamatkan modal sosial FPI. Namun jika chat tersebut terbukti, maka sangat mungkin kepercayaan sosial Rizieq dapat tergerus, yang akhirnya juga mempengaruhi kontrol sosial di kelompoknya. Cerita bisa jadi berbeda jika yang terjerat kasus tersebut bukan orang yang berada pada field agama, semisal Ariel NOAH. Ini terjadi karena ilmu, pengetahuan, dan skill Rizieq adalah dalam bidang (field) agama yang menuntut seeorang bertindak sesuai norma agama. Selama Rizieq bertindak sesuai norma agama, setidaknya norma kelompoknya, maka ia akan memiliki kontrol sosial, yang didasarkan pada kepercayaan sosial.
Selanjutnya jika suatu kelompok tidak memiliki role model, maka mereka akan kehilangan kontrol sosial dalam kelompok. FPI Yogyakarta dapat dijadikan contoh, melihat kasus pidana Bambang Teddy, ketua FPI Yogyakarta, yang mendapat hukuman penjara. Setidaknya setelah kasus tersebut, FPI tidak lagi tampil di publik merespon wacana-wacana nasional dan membubarkan “tempat maksiat.” Dari sini kita mengetahui bahwa hilangnya kepercayaan dan kontrol sosial adalah bagian dari proses tergerusnya modal sosial yang dimiliki seseorang dan kelompoknya.      

Politik Seksualitas
Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa kasus ini dapat menjadi keuntungan bagi lawan Rizieq, sebagai strategi pelemahan modal sosial dalam kubu FPI. Kalaupun Rizieq tidak dipidanakan setelah chat tersebut terbukti benar, kasus ini tetap memberikan dampak besar terhadap social trust dan kontrol sosial yang dimilikinya. Ini pun menjadi keuntungan bagi orang-orang yang kepentingannya bersebrangan dengan Rizieq Shihab. Walaupun begitu akan tetap ada orang-orang yang setia dengan Rizieq dan FPI yang menganggap ini semua adalah strategi pelemahan FPI, dari pada meninggalkannya, karena mereka sudah memiliki modal sosial yang begitu kuat di mana perlindungan, akses informasi, dan rekognisi didapatkan olehnya.

Hary Widyantoro, M.A.

Dosen Fakultas Syariah, IAIN Samarinda.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Kite Runner, the meaning behind the words.

Aku Mencintaimu

Climbing Semeru mountain