Membangun bangsa dari hal-hal kecil

Tulisan saya ketika s1 untuk diskusi mingguan Laskap. Hehe
            
            Sebenarnya saya segan berbicara tentang pembangunan bangsa ini bukan karena yakin bahwa NKRI akan sirna tetapi karena belum ada bukti kongkrit keberhasilan saya dalam membangun bangsa ini dan belum tentu tingkah laku saya sama dengan tulisan ini namun, ijinkanlah  untuk berbicara sedikit dan mengajak teman-teman semua agar selalu optimis terhadap bangsa ini setidaknya terhadap diri kita sendiri.
            Selalu kita ingat pidato Soekarno yang berkorbar-kobar, beliau berkata: “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”[1]. Di pidato yang lain beliau menyebutkan: “Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”.[2] Dari sini saya yakin bahwa peran pemuda sangatlah dibutuhkan dalam membangun bangsa ini maka perlu kita instropeksi diri terhadap apa yang sudah kita lakukan selaku mahasiswa. Sudah seharusnya Universitas-mahasiswa dapat berkontribusi terhadap bangsa ini bukan hanya sebagai tenaga kerja yang berkompeten tetapi yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan itu atau yang dapat menciptakan bahkan merubah sitem kehidupan sosial secara  radikal dan mendasar dari hal-hal yang kita lalui sejak bangun pagi sampai tidur lagi, itulah yang membedakan terpelajar dan tidak terpelajar. Terpelajar bukan berarti dia yang bersekolah tinggi tetapi kerjanya tak lain hanya kuliah, pulang ke kos, dapat IPK tinggi tapi tidak pernah menyatakan pendapat, main, dan jalan-jalan. Sungguh berat menjadi terpelajar itu karena kita punya tanggung jawab besar terhadap masyarakat kita, negara, bangsa ini. Baiklah mari kita lupakan sejenak masalah terpelajar dan kembali mengingat-ingat sejarah. Tahun 1899 sampai 1940-an dunia dikejutkan dengan perkembangan negara yang diolok-olok sebagai “si kuning kecil sipit”, dialah macan Asia-jepang, Pearl Harbour hancur dibuatnya. Di Hindia-Belanda warga negara Jepang mencapai kesamaan derajatnya dalam strata sosial maupun hukum dengan bangsa kulit putih mulai akhir abad 19 itu, dan warga negara kita tak berubah sedikitpun untuk menyamakan derajatnya seperti bangsa kulit putih secara keseluruhan, tidak lain karena memang peradaban kita terlambat maju bahkan sampai sekarang. Eropa, kulit putih, Jepang mereka bangga dengan etos kerja yang menyebabkan majunya peradaban umat manusia, sumbangan mereka dalam dunia ilmu pengetahuan, apa yang bisa kita jawab kalau ada mereka bertanya: “apa yang bangsa kalian berikan pada peradaban manusia?”. Jepang sudah membuat robot super canggih di kala kita masih suka terlambat dan berbicara sendiri-sendiri dalam perkumpulan penting, Eropa menemukan senjata api dengan bubuk mesiu di kala kita masih takut santet, hantu, kuntilanak, Jepang menciptakan kendaraan roda dua untuk diekspor ke negara berkembang yang akhirnya membuat macet  di kala kita merasa gengsi naik ontel dan tidak punya budaya  jalan kaki.
            Kemajuan bangsa kita bisa diukur dari pemudanya yaitu dari etos kerja, tanggung jawab, komitmen, dan dari apa yang kita lakukan sekarang ketika melihat proses demokrasi di sekeliling kita carut marut, korupsi terjadi di birokrasi kita, sistem kehidupan kita yang tidak efektif dan produktif, cara berpikir kita yg kurang modern. Sekarang saya mengajak teman-teman untuk berpikir, apa yang  kita lakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia masing-masing setelah lulus?, puaskah kita menjadi custemer service di Bank Syari’ah? Atau receptionist di BMT Syari’ah? Menikah berkeluarga, hidup bahagia? Atau ada hal-hal yang lebih menantang untuk dijelajahi, ilmu dari Eropa, Afrika, Amerika, bahkan Sabang sampai Merauke pun masih banyak ilmu yang tidak kita ketahui. dari yang terkecil yaitu, dengan merubah dan menciptakan sistem kehidupan  yang efektif dan produktif dalam kehidupan keseharian dari bangun tidur sampai tidur lagi. Peran pemuda dalam membangun bangsa, ditekankan dari hal-hal yang kecil dari kehidupan sehari-hari, dengan tidak meremehkan hal-hal kecil yang remeh tersebut maka saya yakin kita bisa membangun Indonesia menjadi berperadaban lebih maju dari bangsa manapun karena hal-hal remeh temeh tersebut ibarat lubang kecil di kapal yang akan menenggelamkan kapal tersebut.











Kemajuan bangsa kita bisa diukur dari apa yang kita lakukan sekarang ketika melihat proses demokrasi di sekeliling kita carut marut, korupsi terjadi di birokrasi kita, sistem kehidupan kita yang tidak efektif dan produktif, cara berpikir kita yg kurang modern.
Sekarang saya mengajak teman-teman untuk berpikir, apa yang  kita lakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia masing-masing setelah lulus?, puaskah kita menjadi custemer service di Bank Syari’ah? Atau receptionist di BMT Syari’ah? Menikah berkeluarga, hidup bahagia? Atau ada hal-hal yang lebih menantang untuk dijelajahi, ilmu dari Eropa, Afrika, Amerika, bahkan Sabang sampai Merauke pun masih banyak ilmu yang tidak kita ketahui. Tentunya kita harus memperhatikan dari yang terkecil yaitu, dengan merubah dan menciptakan sistem kehidupan  yang efektif dan produktif dalam kehidupan keseharian kita dari bangun tidur smpai tidur lagi. Dengan tidak meremehkan hal-hal kecil yang remeh tersebut maka saya yakin kita bisa membangun Indonesia menjadi berperadaban lebih maju dari bangsa manapun karena hal-hal remeh temeh tersebut ibarat lubang kecil di kapal yang akan menenggelamkan kapal tersebut.  
Tanggung jawab,komitmen,etos kerja.

Peran pemuda dalam membangun bangsa, ditekankan dari hal-hal yang kecil dari kehidupan sehari-hari.
Memodernkan kehidupan kita secara mnyluruh, sistem kehidupan sosial kita yang tak kunjung berubah, etos kerja, klembak klembek dalam bergerak. Tahun 1899 sampai 1940-an dunia dikejutkan dengan perkembangan negara yang diolok-olok sebagai “si kuning kecil”, dialah macan asia-jepang. Di Hindia belanda warga negara jepang mencapai kesamaan derajatnya dalam strata sosial maupun hukum dengan bangsa kulit putih mulai akhir abad 19 itu, dan warga negara kita tak berubah sedikitpun untuk menyamakan derajatnya seperti bangsa kulit putih secara keseluruhan, tidak lain karena etos kerja.  




[1] http://sipencariilmu.wordpress.com/2011/02/07/kata-kata-bijak-pidato-bung-karno/
[2] http://sipencariilmu.wordpress.com/2011/02/07/kata-kata-bijak-pidato-bung-karno/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Kite Runner, the meaning behind the words.

Aku Mencintaimu

Climbing Semeru mountain