Yogya, Never Ending Happiness
Aku menulis ini di dalam kereta Progo
ketika ia mulai berjalan lambat untuk selanjutnya berhenti di Wates.
Kota kecil yang dulu beberapa kali ku lewati tanpa singgah, kecuali pada
tahun 2012 ketika menyerahkan surat izin penelitian skripsi di kantor
pemerintah setepat. Selanjutnya ku sadari bahwa itu hanya menambah pekerjaan. Tapi
tulisan ini tidak akan membahas itu, melainkan kebahagiaan-kebahagiaan selama 4
hari kunjungan di Jogja pada 27 Sept-1 Okt 2018, di sela-sela pelatihan
intensif Bahasa asing program Kementrian Agama, yang cukup melelahkan dan
membosankan. Kebahagiaan-kebahagiaan ini terwujud karena hal simpel yang ku
lakukan, “Silaturrahmi.” Bertemu dengan teman-teman s1 yang koplak-koplak
nan-jahanam memang sangat menyenangkan. Semoga neraka menolak mereka.
Tepat pukul 13.15, kereta ini berangkat dari Wates mengantarku kembali menuju
Jakarta setelah sebelumnya stand by di Lempuyangan untuk mengangkut penumpang.
Pemandangan sawah hijau dengan latar belakang bukit-bukit berjejer dengan
tinggi sekitar 300 meter di atas permukaan laut dapat ku lihat dari cendela
kereta api, dan cukup membawa kesegaran yang mengisi jiwa. Hal seperti ini
sulit ku dapat di Jakarta yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit, fly
over dan jalan tol yang disesaki kendaraan bermotor, kereta api listrik
yang menjadi pilihan transportasi banyak orang sehingga penuh dan lebih mirip
kaleng sarden berjalan. Dengan berlibur ke Jogja, bayangan-bayangan kondisi
Jakarta tersebut sejenak hilang dan saat ini, setelah masa liburan berakhir,
aku siap back to real life.
Oke, kebahagaian selanjutnya adalah bertemu dengan teman-teman berbicara
ngalor ngidul tentang masa lalu dan apa yang sedang dikerjakan saat ini. Hal
remeh temeh seperti ini cukup membawa kebahagiaan tersendiri bagi saya yang
cukup lama tidak bertemu dengan teman-teman karena tawa lepas selalu hadir di
sela-sela obrolan. Tawa ini membentuk hormon endhorphines dalam diri
kita yang kata teman saya bisa membawa kesenangan. Cerita tentang pertemuan
dengan teman-teman selama di Jogja, dalam tulisan ini, akan ku mulai dari
perjumpaan dengan Eka dan Huda di rumah kontrakan Eka yang menjadi tempat
tinggalku selama 4 hari. Selanjutnya kunjungan ke rumah Wildan (tidak mungkin
dosen tetap non PNS dengan gaji pas-pasan mampu membeli rumah sebesar itu. Jadi
rumah siapa? wkwk). Terakhir adalah pertemuanku dengan Danang, manusia
terlaknat dunia akhirat.
Sekitar pukul 22.00 tanggal 27 September, aku sampai di rumah kontrakkan
Eka yang cukup nyaman itu, terletak kurang lebih 100 m di utara terminal
Condong Catur. Sebagai tamu kehormatan, kopi abal-abal telah diseduh dan
dipersiapkan untukku. Aku mulai perjumpaan tersebut dengan bersalaman dan
menanyakan kabar masing-masing, lalu berkenalan dengan Tami, istri Eka yang
sedang hamil sekitar 7 bulan. Aku yakin ini adalah hasil hubungan setelah
menikah karena sebelum ijab-qabul, Eka selalu ejakulasi bahkan sebelum
ereksi. Kopi abal-abal itu ku minum
bersama ampasnya samibil mendengar ejekan pertama dari Eka,“Kamu kok miskin
banget sih datang ke Jogja? Malu sama
Huda calon Hakim Pengadilan Agama yang lagi pendidikan ini looo. Sebulan aja
dapat 5 juta pas pendidikan, apa lagi pas udah diangkat Hakim?” Huda
senyum-senyum seperti mencium aroma kemenangan setelah berabad-abad terhina dan
diremehkan. Dengan gaji 5 juta perbulan di Jogja, hidup cukup terpenuhi.
Uang kos dan makan 2 juta, nongkrong 1
juta. Sisanya pijat plus-plus di tempat-tempat rahasia, hehe. Bajindull. Huda memulia ejekan lainnya,”sini
ku belikan rokok. Mau merek apa?” ku bilang,”LA Ice” sambil berceloteh “rokok
apa itu?” ia langsung ngacir dengan menggunakan motor kawasakinya yang punya
style classic. Satu waktu ku tanya soal harga motor itu, ia nyengir sambil
berkata,”30 juta”. Aku tau cengiran itu berarti,”gak mungkin kamu bisa beli ini”. Yah ku akui
memang masih jauh dari keberhasilan finansial. Bekerja sebagai dosen tetap non
PNS dengan gaji ngepas, hidup untuk diri sendiri saja masih sulit apa lagi
membiayai keluarga, sebagai suami, sesuai dengan UU Perkawinan itu. Ribet kalo
dipikirkan bagaimana harus mencari uang untuk kredit rumah, bayar BPJS, beli
popok, makanan pendamping asi untuk anak, sampai beli quota internet untuk
stalking mantan-mantan yang sudah menyakitiku. Ada kenikmatan tersendiri ketika
aku merasa cukup sukses saat ini sambil stalking mantan dan berkata dalam
hati,“salahmu menyakitiku. Saat ini aku sukses dan akan berangkat ke
Canada....“ yah Canada, broo. Walaupun aku miskin setidaknya beasiswa s3 berhasil ku dapatkan dan ingat
kawans, setibanya di Montreal, Quebac, aku akan memposting poto di FB dan IG
lalu mengetagnya ke kalian. Poto winter, autumn, spring, summer, hingga naked
festival yang dipenuhi oleh orang-orang telanjang bulat di area publik. Tapi ingat,
hanya poto-poto lelaki tua buncit tidak sunat yang akan ku tag ke kalian. Satu
lagi, saya berangkat pakai uang negara. Semoga kalian bisa main ke luar negeri
pake uang sendiri ya..! wkwk.
Tapi yang juga menyenangkan adalah mengetahui bahwa beberapa bulan ke
depan, Eka dan Tami akan memiliki buah hati yang membuat mereka lebih bahagia
lagi. Feel how being parents is like.....! it
is a wonderful moment in your life, even witnessing your child growing is the
most blessed moment you will ever have. Dalam hal ini, Huda yang selama 27
tahun hanya menggunakan penisnya untuk kencing dan masturbasi, tidak mengerti
apa-apa soal happy family.
Sebelum bertemu Danang laknatullah,
kami mengunjungi Wildan yang anaknya baru saja lahir dan diberi nama Zanuba, di
Bantul. Selamat Kanda Wildan dan Dika, semoga anak kalian diberi kesehatan dan
tumbuh menjadi wanita yang kuat. Ingat kawan, selalu jadi orang baik dan jangan
menjadi penjahat kelamin (walau ini tidak mungkin karena Wildan tidak punya
bakat selain
menganalisis Undang-undang). Sebagai priyayi, ia berpakaian santai
tapi tetap sopan yaitu kombinasi kaos dan sarung yang menandakan identitas
seorang santri taat ibadah termasuk sunnah rasul di malam Jumat. Obrolan kami
berkisar di topik-topik normal dan umum untuk menunjukkan kami adalah orang
baik-baik dan terhormat, sampai pada momen ketika kita membahas soal mencari istri untuk Huda jomblo. Setelah
putus dengan pacarnya yang duluuu sekali, ia tetap masih penasaran dan jengkel pada
saat yang sama karena semua media sosialnya diblock oleh mantannya, sehingga ia
tidak bisa stalking. Menyedihkan. Setelah putus, ia berpacaran lagi kepada
gadis dari Malang sampai akhirnya ditolak oleh orang tua si doi. Double
menyedihkan. Tapi yang lebih menarik adalah ketika mertua Wildan menawarkan
anaknya, yang berarti adik Dika (istri Wildan). Huda langsung menepok jidad
karena tidak bisa membayangkan untuk menjadi keluarga Wildan dan harus menambah
satu kata,“Mas“ di depan nama Wildan. Ini artinya potential bulling sampai
akhir hayat oleh Eka dan Danang.
![]() |
| Mengunjungi "rumah" Wildan |
Terakhir, sulit menceritakan ini tapi aku harus adil sejak dalam pikiran.
Pertemuan dengan Danang yang sudah menjadi dajal sejak dalam pikiran menjadi
penutup tulisan ini. Setelah menunda-nunda dan membatalkan janji karena
kedajalannya, ia datang tepat setengah jam sebelum mobil yang saya pesan untuk
mengantar ke Lempuyangan dan kembali ke Jakarta,menggunakan kereta api, tiba. Untuk menebus kesalahannya, ia memberi kami
kopi arabica dan robusta merek Griyo masing-masing 200 gram. Bagi yang ingin
merasakan nikmat kopi tubruk ala Jawa Timur dan Tengah asli dengan cangkir mini,
Griyo Café adalah pilihan terbaik.
Obrolan diawali dengan topik bisnis kopi Danang di Griyo dan burung sampai
ia teringat Hibat. Hibat adalah teman kami yang ahli bermain futsal tapi
tiba-tiba kakinya bengkok ketika turnamen disebabkan kegugupan. Itu lebih baik
sih dibanding aku yang harus melarikan diri ke Karimun Jawa untuk menghindari
turnamen yang hanya untuk beberapa orang saja. Kalau aku ikut, jelas fenomena
menendang bola ke kiri tapi meluncur ke kanan, menendang bola ke barat daya
tapi melesat ke timur laut akan mereka saksikan. Aku yakin secara teknik
tendanganku sudah benar hanya konsep arah angin saja yang perlu dide dan
rekonstruksi. Kembali ke cerita Danang, ia berkata“Hibat adalah orang yang
paling bahagia di antara kita.““kenapa begitu?“ ia menjawab,“karena standar
kebahagiannya adalah ketika burungnya bisa bersiul“. Obrolan selanjutnya berkisar soal
wanita-wanita mantan Danang. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa ia yang
memiliki wajah pas pasan hanya modal cocot begal dapat menaklukkan banyak
wanita. Sampai pada obrolan “cangkir kopi ngaduk sendok ala wanita Madura”
(silahkan tanya maksudnya ke Danang) mobil menjemput dan ku ucapkan selamat
tinggal dan sukses semua.
Selesai menulis ini, kereta berhenti sementara di Purwokerto dan kopi ku
habiskan. Waktunya tidur broh.... masih berjam-jam kereta ini tiba di Jakarta.
Gud luck everybody.
Purwokerto, 1 Oktober 18


Komentar
Posting Komentar