Lebanon

Dari banyak film berlatar belakang perang, Lebanon
menyediakan tontonan dan ruang lingkup berbeda dari yang lainnya. pasalnya
hampir seluruh scenenya hanya ada di satu tempat yaitu dari dalam tank. Mungkin
cukup tepat mengatakan bahwa ini adalah film yang mencertiakan peperangan dari
dalam tank, karena satu-satunya cara film ini membuat kita mengetahui keadaan
luar adalah, dengan membuat kita seakan-akan menjadi sang prajurit yang
bertugas membidik dan menembakan peluru maupun bom dari tank. Sehingga, kita
bisa melihat keadaan perang di luar melewati tele pembidik yang ada di tank. Film
ini menyediakan cara pandang yang unik tentang perang, keadaan emosional para
prajurit yang berada di tank dalam menjalankan tugas, dan tekanan yang mereka
dapatkan selama bertugas.
Cara film ini menyajikan suasana dan cerita perang,
sangat unik bagi saya yang terbiasa melihat film perang yang pengambilan
gambarnya luas, seperti peperangan di hutan, padang, air, pegunungan, goa, dll.
Menjadi unik karena berbeda dari yang pada umumnya dan cocok bagi penikmat film
perang yang sudah bosan dengan peperangan dengan view yang lebih luas. Ia juga
menampilkan pengetahuan baru untuk penonton yang penasaran dengan keadaan dari
dalam tank ketika perang. Kita akhirnya tau sedikit banyak bagaimana keadaan
dalam tank beserta crewnya. Setidaknya ia menyajikan sekilas pemandangan dalam
tank yang gelap, genangan oli dan air bercampur tak karuan, bahkan buang air
kecil pun harus dimasukkan ke kotak urine melalui selang. Bahkan tawanan yang
diikat tangannya pun harus buang air kecil di kotak itu, yang akhirnya membuat
tentara dalam tank tak ada pilihan selain membantunya, yang artinya ia harus
meletakan penis tawanan ke ujung selang agar dapat membuang urinenya.
Di samping itu, suasana emosional antara prajurit di
dalam tank juga disajikan di sini. Bagaimana si penembak musuh harus gugup
ketika melepaskan tembakan, karena kawatir yang ditembak bukan lah musuh. Kegugupan
dan rasa bersalah semakin bertambah ketika korban yang tertembak hanya warga
sipil. Namun, semua itu harus dihilangkan dari diri tentara agar tak merasuki,
menular kepada yang lain, dan demi menjalankan tugas dari atasan. Dalam hal
ini, atasan dapat menjadi Tuhan sesaat atau bahkan selamanya bagi bawahannya. Sekali
ada perintah menembak, maka tidak ada kata tidak.
Situasi seperti di atas tentunya menciptakan tekanan
tersebdiri bagi prajurit di medan perang. Ia hanya menyisakan pilihan membunuh
untuk bertahan atau mati terbunuh sebagai prajurit yang gagah berani membela
tanah air, setidaknya begitulah pemahaman yang diterima oleh mereka. Kadang hari
ini dapat membunuh untuk bertahan, namun tidak untuk keesokan harinya. Akan tetapi,
di akhir film , disajikan bagaimana seorang prajurit merasa lepas dari sedikit bebannya,
setelah melewati peperangan dan kepungan tentara Syiria. Penyajian yang unik
ketika seonggok tank tiba-tiba berada di padang penuh bunga yang indah, dengan
seorang prajurit keluar dari tanknya, setelah akhirnya dapat melarikan diri
dari kepungan. Seonggok baja sekarat akibat peperangan berada di tengah kuningnya bunga nan indah di tengah padang. Seakan-akan
ia mengatakan, sesuatu yang indah dan nikmat akan ada setelah perjuangan
bersusah payah.
Komentar
Posting Komentar