Kapitalisme, Simbiosis Parasitisme?



             Banyak orang gencar mempermasalahkan bahkan mengecam kapitalisme sebagai sistem yang tidak baik bagi rakyat kecil, karena yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin tetap miskin. Salah satu contoh yang tepat menurut saya untuk merepresentasikan kejamnya kapitalisme adalah, salah seorang pengusaha toko kecil-kecilan yang merasa kalah bersaing dengan Indomaret yang tepat berada di depan tokonya. “Gimana lagi mas, jarak beberapa meter selalu ada mini market yang jelas punya modal lebih besar dari pengusaha-pengusaha biasa seperti saya. Sehingga, toko saya tutup dan lebih baik buka kuliner saja. Seharusnya pemerintah memperhatikan pengusaha-pengusaha kecil seperti saya ini, dan tidak mempermudah izin pendirian mini market seperti itu,” tuturnya.
           Namun, ada pemandangan yang menurut saya unik yaitu seorang nenek tua dengan pakaian tradisional Jawa, kurang lebih berumur 60—70-an, sedang menjual dagangannya yang berupa makanan ringan, seperti bakwan, pisang goreng, arem-arem, dan lain-lain tepat di depan pintu mini market Indomaret. Sedetik saja pengunjung Indomaret menoleh padanya, maka ia langsung menawarkan dagangannya dan berusaha mendorongnya untuk membeli atas dasar kasihan, atau rasa ingin menolong. Dengan kata lain, nenek tersebut menunjukan wajah memelas dan perkataan yang sedikit memakasa agar pengunjung yang baru saja keluar atau masuk pintu Indomaret dapat membeli barang dagangannya.   
            “Mas, monggo mas, pisang goreng, bakwan. Tolong beli mas, buat makan di rumah sama suami saya.” Dari beberapa pengunjung Indomaret, akhirnya ada yang merasa kasihan dan akhirnya membeli. Saya pun juga ikut membeli empat pisang goreng seharga Rp5000,-. Ketika saya memberikan uang sebesar Rp10.000,- nenek tersebut mengatakan bawah tidak ada kembalian, dan memohon saya untuk membeli lagi sisa Rp5000,-, yang pada akhirnya ia memberi kembalian juga, setelah saya bersikukuh untuk tetap lebih meminta kembalian.   
            Sebagai refleksi saja bahwa ini, saya pikir, merupakan perwujudan di mana seorang nenek sebagai pengusaha kecil tidak terlihat bersikap kontra atau memusuhi perusahaan yang lebih besar dan terkesan kapitalis ditunjukan dengan persaingan “barang siapa punya modal besar, maka ia yang menang” dari pada seorang bapak pengusaha sebelumnya. Dalam hal ini saya ingin merujuk pada term “simbiosis komensalisme” antara Hiu dan ikan Remora dalam ilmu Biologi, yaitu hubungan antar dua hewan tersebut di mana hanya salah satu saja, Remora, yang mendapat keuntungan dari Hiu, namun hiu tidak mengalami kerugian apapun.
            Sang nenek lebih menunjukan sikap Remora yang kecil yang menempel pada ikan hiu untuk mendapat sisa-sisa makanan dari hiu tersebut dan mendapat keuntungan terbebas dari serangan lawan atau pemangsanya, karena kedekatannya dengan hiu. Sedangkan nenek tersebut, mencoba mengambil keuntungan dengan berjualan di depan Indomaret yang notabene terkenal dan mempunyai nama sebagai alternatif tempat berbelanja bagi kalangan masyarakat menengah ke atas, sehingga dengan relatif mudah ia bisa mendapat pembeli yang juga pengunjung Indomaret, walau dengan alasan-alasan yang terkesan memelas.
            Sesuai dengan term “simbiosis komensialisme”, maka sejauh ini saya pikir, hanya nenek tersebut lah yang mendapat keuntungan dari Indomaret. Sedangkan mini market tersebut tidak memeproleh apapun dari nenek tersebut. Ini berbeda dengan apa yang dirasakan oleh seorang bapak pengusaha ketika ia merasa dirugikan oleh Indomaret yang berdiri tepat di depan tokonya. Maka, jika merujuk pada term biologi yang lain, ini sesuai dengan term “simbiosis parasitisme”, yaitu hanya salah satu saja dalam hubungan yang mendapat keuntungan dan di sisi lain ia merugikan hewan lainnya. Atas dasar ini, banyak kalangan masyarakat menolak kapitalisme yang hanya berorientasikan kepada simbiosis parasitisme, di mana pengusaha dan rakyat kecil hanya akan kalah dan tetap kalah dari pengusaha yang memiliki modal lebih banyak. Dalam hal ini, nenek tersebut menunjukan sikap berbeda dengan menjadikan Indomaret seperti ikan Hiu bagi ikan Remora untuk diambil keuntungannya tanpa menyebabkan kerugian bagi Indomaret, entah disadari atau tidak. Hal ini seperti anti tesis bahwa kapitalisme selalu merepresentasikan simbiosis parasitisme.    

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Kite Runner, the meaning behind the words.

Aku Mencintaimu

Climbing Semeru mountain