PENDAKIAN SEMERU




Prolog
          Pendakian Semeru adalah pendakian yang sudah saya tunggu-tunggu selama hampir 4 tahun menetap di pulau Jawa, tepatnya Yogyakarta. Tidak ingin gagal seperti pendakian pertama saya di Merbabu, maka bersama tim pendakian saya merencanakan jauh-jauh hari sebelumnya untuk kematangan pendakian ini, yang jatuh pada tanggal 26 sampai tanggal 31 April 2013. Tepat dua minggu sebelum pendakian,  saya menghadapi ujian skripsi yang sudah dipersiapkan mulai bulan Oktober 2012. Jadi bisa dikatakan pendakian ini menjadi aktifitas yang sangat menggembirakan setelah menyelesaikan penelitian/tugas akhir sebagai mahasiswa. 
          Saya bersama tim Sumen (suka mendaki), Wiwid, Didik, Adit, Eka, Safwan, Huda, Hermawan, tidak bisa menyembunyikan ketidaksabaran untuk mendaki gunung ini, karena ia adalah gunung tertinggi di pulau Jawa dan memiliki pemandangan yang indah.

D-day
          Tanggal 26 April 2013 pukul 23.00 WIB, bertepatan dengan ulang tahun Safwan walau kami tidak berencana merayakannya, namun ini menjadi hari gembira untuknya.  Di hari inilah kereta Malioboro express akan menuju stasiun Kota Baru, Malang, dan kereta ini juga yang akan membawa kami ke Tujuan. Pagi pukul 7.30 Wib kami sampai di Kota Malang dan langsung menuju pasar Tumpang  menggunakan angkot yang dicarter. Sesampainya di sana kami harus menunggu truk yang akan memberi tumpangan menuju Ranupani di rumah pak Ruseno, pemilik truk, sambil melengkapi logistik yang kurang. Tepat jam 10.00 WIB truk tiba dan mengangkut kami beserta rombongan dari Surabaya yang juga ingin mendaki. Tepat sekali, sekitar 2 jam menjadi hewan kurban yang digoncang-goncang di atas truk, karena jalan yang sangat ekstrim, namun keindahan alamnya dapat mengobati, lembah yang dialiri sungai, padang pasir di sisi barat Bromo, satu kata, indah.
          Jam 12.00 WIB sampai di Ranupani, tim langsung istirahat sejenak dan mengisi bahan bakar untuk persiapan. Jam 13.00 WIB kami mulai pendakian dengan jalur yang menanjak melewati ladang penduduk sampai jalur yang sudah diberi paping. Kami berjalan santai, namun konsisten dengan waktu istirahat sekitar 2 sampai 3 menit sekali istirahat. Kondisi jalan setapak yang dilewati lumayan baik begitu juga dengan petunjuk jalan. Ranukumbolo yang menjadi tempat istirahat malam ini, untuk menempuhnya kami membutuhkan waktu 5 jam, namun sebenarnya beberapa anggota tim sudah sampai pukul 17.00 WIB. Hanya karena ingin mengambil beberapa poto dari kejauhanlah yang akhirnya membuat kami memperlambat perjalanan ini, karena tidak dapat dipungkiri keindahan danau ini membuat kami tidak ingin kehilangan momen pengambilan poto.

          Pukul 18.00 tenda didirikan tepat di depan danau, beberapa anggota tim ada yang langsung istirahat dan memasak makan malam. Ranukumbolo tampak tenang dan dingin dengan rembulan yang menyinari. Tenangnya air danau memantulkan sinar bulan yang membawa ketenangan. Sekitar pukul 21.00 tim sudah mulai istirahat, maka datanglah penyakit lama, tidur tidak nyenyak. Jika saya hitung-hitung dari semua pendakian hanya pendakian gunung Sindorolah saya bisa menikmati tidur malam, sisanya tidak, entah karena teman setenda yang mendengkur, kedinginan, atau tiap jam selalu terbangun.
 
         
Jam 4.00 saya sudah terbangun lagi dan mencoba tidur lagi sampai 4.30, sisanya menunggu mentari terbit. Momen yang ditunggu tiba, akhirnya mentari dengan malu-malu menunjukan wajahnya dari balik bukit dan menyapa danau Ranu Kumbolo beserta seluruh pendaki. Sinar mentari hangat menerangi dan memantul dari air danau yang tenang sebagai pengganti sinar bulan di waktu malam. “Uuuuuuh” saya tidak bisa bicara apa-apa lagi untuk menggambarkan keindahannya, silahkan berkhayal sendiri.
         
tanjakan cinta
Jam 9.00 pendakian dilanjutkan menuju Arcopodo, tempat peristirahatan selanjutnya. Dimulai dengan tanjakan cinta. Boleh dibilang saya kaget dengan tanjakan ini, karena memang track yang dilalui dari Ranupani hanya beberapa tanjakan saja sisanya bonus, namun lumayan panjang. Setelah tanjakan cinta, turunan bukit menuju padang sabana yang bernama Oro-oro Ombo, luas dan sekitar 20-30 m2 dipenuhi tanaman ungu mirip Lavender. Melewati padang tersebut sampai di Cemoro Kandang kami sangat menikmati, setelahnya jalur mulai menanjak lagi, namun tetap masih banyak bonusnya. Setelah Cemoro Kandang kami sampai di Kali Mati pukul 12.00, perjalanan memakan waktu 3 jam. Kali Mati juga menjadi alternatif untuk mendirikan tenda sebelum sampai ke puncak, dan dapat menampung banyak tenda karena memang luas, namun kami memutuskan istirahat sebentar, makan, dan mengambil air minum di Sumber Mani, sekitar 100 m dari Kali Mati. Di tengah-tengah peristirahatan, ada salah satu anggota Ranger, petugas yang mengawasi jalur dan pendakian gunung yang meinformasikan bahwa cuaca sedang tidak menentu jadi sebaiknya kami mendirikan tenda di sini saja. Akhirnya, kamipun mendirikan tenda dan berencana summit attack jam 1.00 dini hari. Kondisi di sini lebih dingin dan sering terdengar deruan angin yang kencang seperti badai.
kali mati
        Pukul 1.00 WIB kami melancarkan summit attack melewati jalan setapak landai, lalu menurun, dan kembali menanjak, benar-benar menanjak seperti halnya gunung-gunung lain ketika melewati batas vegetasi. Maka, banyak orang bilang setelah kali mati adalah pendakian yang sebenarnya. Pukul 2.00 tiba di Arcopodo, di tempat ini juga bisa menjadi alternatif mendirikan tenda, namun tidak terlalu luas seperti di Kali Mati. Kami istirahat sejenak dan melanjutkan lagi perjalanan melewati Kerling, di tempat ini tenda juga bisa didirikan, jika mendirikan tenda di sini keuntungannya adalah lebih dekat dengan puncak, namun kita harus mempersiapkan tenaga lebih karena harus membawa carier sampai ke tempat ini. sedangkan untungnya mendirikan tenda di Kali Mati adalah, sumber air tersedia dan ketika summit attack kita tidak perlu membawa bawaan lahi kecuali air atau beberapa snack untuk energi.
        
track menuju puncak
Sampai di batas vegetasi track mulai berpasir dan berbatu. Di sini pendakian menjadi lebih sulit dari sebelumnya, karena harus waspada bebatuan yang jatuh dari atas bekas pijakan pendaki lain. Selain itu, pasirnya menyulitkan langkah kaki, tiap satu langkah turun setengah langkah, sehingga menguras tenaga lebih dari track biasa. Di tengah pendakian mentari mulai terbit dan pemandangan menjadi terlihat cerah, sudah pasti indah dan membuat saya berhenti sejenak dan menikmatinya. Jalur berpasir ini memang panjang, sehingga butuh kesabaran dan kecermatan untuk memijakkan kaki agar tidak menguras tenaga terlalu banyak. Di tengah pendakian salah satu anggota tim, Huda mengalami cidera kaki, sehingga harus berjalan pincang. Beberapa tim sudah ada yang tiba di puncak duluan, saya dan Safwan menunggu Huda setengah perjalanan sampai akhirnya Eka juga menunggu, akhirnya saya pergi duluan membawa air untuk Adit, Didik, dan Hermawan yang sudah sampai puncak. Waktu yang diperkirakan dari Arcopodo menuju puncak hanya 5 jam menjadi sekitar 6 jam lebih. 

       Untuk kami, jalur berpasir ini terbilang lumayan berat dan butuh kesabaran. Sesampainya di puncak saya bertemu ketiga anggota tim dan melakukan sujud syukur lalu mengambil dokumentasi gambar sembari menunggu ketiga teman lain. Sebenarnya, saya sempat berpikir bahwa Huda tidak mampu mencapai puncak, karena dengan cidera kakinya ia tidak bisa berjalan normal dan akan sangat menguras tenaga. Selain itu jika terjadi hal-hal yang membahayakan seperti keluarnya gas beracun dari kawah, maka ia tidak bisa menghindar secepatnya. Itu jelas kan membahayakan anggota tim yang lain. Akhirnya, saya menitip pesan untuk Huda melalui pendaki lain agar turun dengan pendaki tersebut jika memang sudah tidak memungkinkan lagi. Ketika itu saya benar-benar kawatir terhadap keselamatan keseluruhan tim. Namun, setelah beberapa menit kami berpoto, sosok kurus jalan terpincang-pincang terlihat, dia adalah Huda. “oh shit... u made it, man..damn it” kataku dalam hati, jujur saya sempat mengira ia tidak akan sampai dan seharusnya tidak, tapi ia berhasil. Selanjutnya  Eka dan Safwan yang mengawasi Huda dari belakang menyusul, tapi sebelum itu sambil terpincang-pincang Huda jalan mendekati kami dan bersalaman selanjutnya sujud syukur sambil tersedu-sedan seperti anak kecil kehilangan mainan, tak bisa mengelakkan keharuan ini, entah saya lebay atau alay tapi ini mengharukan, memberikan pelajaran dan kenangan berharga. Tidak menyangka kejadiannya seperti ini, memang dari seluruh anggota tim ia baru mendaki dua kali, apresiasi kerja kerasnya.
tim berhasil tiba di puncak,dari kiri-Eka, Hermawan, Adit, Wiwid, Safwan, Huda, Didik.

The way back
          Tepat pukul 9.00 kami turun dari puncak, pada waktu itu kami tim terakhir yang turun. Perjalanan turun tidak begitu menyulitkan karena medan berpasir mempercepat langkah kami, sebelumnya akhirnya kami menemukan Eka tertidur di bebatuan sekitar 20m dari puncak dan berhalusinasi. Kekawatiran memuncak jika saja angin mengarah ke jalur pendakian dan membawa gas beracun, akhirnya kami memanggil-manggil dan mencoba membangunkan dari jauh, karena berat sekali jika harus naik kembali dengan jalur berpasir, sementara jarak saya dengannya sekitar 50m. Kira-kira sepuluh menit akhirnya ia terbangun karena mendengar kami berteriak. Akhirnya, Hermawan turun lebih dulu membawa air dan menunggu di Arcopodo. Saya turun bersama Huda dan yang lainnya menyusul, karena harus menunggu Eka. Sampai di Arcopodo, ternyata Hermawan tidak ada, saya pikir dia lebih dulu sampai di tenda. Permasalahannya teman-teman sudah dehedrasi dan air dibawa oleh Hermawan. Sesampainya anggota tim yang lain, akhirnya saya menyusul Hermawan ke camp untuk menyuruhnya kembali ke Arcopodo membawa minum, snack, dan buah. Keadaan yang sungguh tak terprediksi, dan tidak seharusnya terjadi, ini menjadi pelajaran baru. Didik dan Adit menyusul, sedang Eka, Huda, dan Safwan menunggu di Arcopodo.
          Sesampainya di camp, saya terpaksa menyuruh Hermawan kembali ke Arcopodo seperti rencana awal, namun dengan terpaksa kami tidak bisa turun ke Ranukumbolo hari itu juga, karena tim harus beristirahat cukup sampai esok hari. Dengan berubahnya rencana awal, maka saya, Didik, Adit, pergi mengambil air untuk persiapan malam ini dan esok hari. Sekembalinya dari mengambil air, teman-teman telah tiba dan beristirahat hingga sore, malam harinya kami makan malam sambil menhangatkan badan di depan api unggun.
          Pagi hari jam 9.00 kami berangkat ke Ranukumbolo dan berencana bersantai di danau tersebut barang satu dua jam. Perjalanan ditempuh selama 2 jam bersama seluruh anggota tim. Sampai di  danau kami mandi dan makan, dan tidak lupa tetap menjaga kebersihan alam agar keindahannya tidak punah. Pukul 13.00 kami berangkat dengan harapan sampai di ranupani sore dan memesan truk untuk ke Tumpang.
 
Oro-oro Ombo, poto diambil saat perjalanan pulang menuju Rabukumbolo
          Perjalanan menuju Ranupani santai tanpa beban, mengingat saat-saat yang tidak seharusnya terjadi telah terlewati. Akhirnya pukul 16.00 saya tiba di Ranupani bersama Hermawan, di sana sudah ada Adit yang tiba duluan, langsung saja kami memesan teh hangat dan beristirahat. Setengah jam selanjutnya teman-teman yang lain tiba.

          Setelah magrib, truk dari tumpang yang mengantar kami 4 hari yang lalu tiba dan kami siap menuju Tumpang. Dari Tumpang kami menuju stasiun kota Baru, Malang. Semalam menginap di depan toko dekat stasiun, tidur di atas paping beralaskan mantel, alhasil badan remuk. Kesokan harinya teman-teman membeli tiket Malioboro express tujuan Jogja yang akan berangkat jam 8.00, dan saya menetap di Malang selama beberapa hari.

Epilog
       Beberapa hal positif yang saya dapat dari pendakian ini, kami memang memiliki sifat yang berbeda-beda, namun pendakian bersama sudah seharusnya saling membantu, tidak ada pikiran egois yang menguasai tiap indvidu. Namun demikian, tiap individu tetap harus berusaha semampu mungkin untuk mempersiapkan diri, seperti mental, fisik, dan materi. Selain itu, tim memiliki koordinator sesuai bagiannya, seperti leader, logistik, perlengkapan. Tiap koordinator harus mampu menjalankan kewajiban sesuai bagiannya. Dengan begitu tiap individu akan berkontribusi terhadap pendakian tim.
 
mentari terbit di ranukumbolo
sarapan pagi hari sebelum menuju Kalimati

Oro-oro Ombo
Huda mengucapkan slamat ultah kepada pacarnya
renang di danau yang tenang dan dingin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Kite Runner, the meaning behind the words.

Aku Mencintaimu

Climbing Semeru mountain