backpacking to Dieng


Backpacking to Dieng
Traveling, adalah suatu kata yang dipakai oleh banyak orang ketika melakukan perjalanan, baik wisata, liburan, dan lain-lain. Namun masuk diakal ketika traveling itu sendiri terbagi menjadi beberapa macam, salah duanya yaitu, traveling yang diatur oleh jasa wisata atau tidak, dan traveling ekonomis, bersatu dengan alam. Nah yang terakhir inilah banyak orang menyebutnya “backpacking”. Backpacking sendiri identik dengan seseorang yang menjelajah tempat-tempat dengan menggunakan tas ransel, berjalan kaki, ekonomis. Haha....kalau Andrea Hirata dalam novelnya “Edensor” bilang bahwa ia tidak mau melakukan traveling dengan jasa wisata yang menawarkan harga murah seperti yang dikuti banyak mahasiswa Indonesia di luar negeri. Katanya traveling model itu hanyalah untuk orang-orang pensiunan, dan backpacking itu lebih menantang. Baiklah kawan kita tidak berbicara apakah pendapat itu benar atau tidak tetapi silahkan teman-teman yang mempunyai jiwa petualang membuktikannya sendiri-sendiri.
Tepatnya tanggal 25 januari 2012, aku bersama temanku melakukan perjalanan menuju dieng ala backpacker (menurutku). Akupun tak peduli apakah itu benar-benar backpacking atau tidak karena kami hanya berusaha melakukannya sesuai yang kami inginkan, dari berjalan kaki sejauh 11km lebih, tersesat, numpang minum air panas di rumah warga, menumpang di mobil-mobil petani, hingga berdebat dengan seorang yang menawari kami ikut mobil coldnya yang jadul dengan harga mahal dua kali lipat dari harga bus magelang-yogyakarta. Dimulai dari kos menuju terminal Jombor, lalu berangkat menuju terminal secang Magelang jam 5.06 pagi, lanjut ke Wonosobo hingga akhirnya sampai di Dieng kira-kira pukul sebelas. Berjalan sekitar 8km mengunjungi tempat-tempat bersejarah, telaga nan indah, dan kawah yang menarik. Dengan berjalan kaki kami merasakan langsung badai angin yang menakutkan setiap kali melangkahkan kaki menuju tempat yang dituju. Menakutkan karena membuat pohon-pohon tumbang, atap rumah lepas dari pakunya, kabel telepon putus karenanya, plang-plang rubuh bahkan plang milik pom bensin. Ketika berjalan kaki dan badai angin pun datang maka kami dapat memiringkan badan sekitar 30 derajat tanpa harus takut jatuh. Dalam hatiku berkata, “mungkin michale jackson memiringkan badan pertama kalinya tanpa takut jatuh ya di sini seperti terlihat di cover albumnya ....” setelah itu aku berkata lagi dalam hati, “bodohnya dirimu kawan mana mungkin ia datang ke sini, teori apa yang kau pakai untuk membuktikan michale jackson pernah memiringkan badannya di sini,” aku penasaran, “oh ia juga ya.” Aku sadar, “ah bajingan....tanganku kaya membeku, wah harus pakai kaos tangan nih.” Akhirnya kami beristirahat di masjid. Hari makin gelap dan harus mencari tempat tidur yang nyaman untuk beristirahat mengumpulkan tenaga karena hari esok harus melanjutkan perjalanan lagi. Sebenarnya ingin sekali menginap di luar ruangan tapi dengan keadaan cuaca buruk kami tidak mau ditemukan mati sia-sia tertimpa pohon tumbang atau atap rumah yang jatuh karena badai angin, lalu tersebar berita di TV dan koran bahwa ada mahasiswa bodoh yang berlibur ke Dieng hanya untuk mengantarkan nyawa, mungkin orang-orang akan mengira agar kami mati bahagia maka kami pergi mengantarkan nyawa ke Dieng karena konon menurut sejarah Dieng adalah tempat bersemayam para Dewa. Tapi buang jauh-jauh pikiran tadi kawan karena akhirnya kami memutuskan menginap di salah satu penginapan.
Wah aku beruntung memilih penginapan yang satu kamar dapat dihuni 2 orang bahkan mungkin lebih. Setidaknya lebih baik dari pada imajinasiku tadi. Namun sebenarnya kenyamanannya masih dipertanyakan karena malamnya walau dengan selimut, jaket, kaos oblong lapis tiga, syal, tutup kepala khusus hawa dingin dua lapis yang satu merek Eiger (Rp50.000,- coy lumayan bermerek) yang satu lagi murahan, kaos kaki TNI, itu semua tak ada artinya. Ke kanan dingin, ke kiri dingin ah bingung aku akhirnya menghayal wanita yang aku jatuh cinta padanya menjadi pilihan tepat untuk mengatasi masalah ini hingga akhirnya tertidur, walau setiap dua jam terbangun dan tidur lagi.
Pagi hari sarapan dan langsung menuju kawah Sileri dan sumur Jala Tunda tentunya dengan berjalan kaki. Tahukah kawan kalau dulu aku selalu mempertanyakan tentang awan yang disapu angin, ketika  tak menyentuh tanah (maksudnya naik pesawat) aku merasa dekat dengan awan tersebut, namun kali inilah ketika menginjak tanah aku juga merasa awan tersebut dekat denganku, di lembah-lembah bukit, di sekelilingku ketika pagi atau sore awan tersebut terasa dekat. Kami melewati mobil petani yang mengangkut kentang dan meminta tumpangan, kali ini tak berhasil dan kami terus berjalan sampai beberapa meter mobil itu datang dan bersedia mengangkut kami sampai persimpangan. Lanjut berjalan lagi dan dapat tumpangan lagi. Setelah sampai di kawah sileri kami melanjutkan perjalanan menuju Sumur jala Tunda, tiba-tiba aku melihat anak berambut gimbal. Inilah fenomena yang menarik bagiku. Kalau komunitas rastamania, raege, scoterist (khususnya scoter extreme)   berambut gimbal karena mereka menginginkannya, lain halnya dengan anak-anak Dieng. Gimbal dipahami sebagai kutukan Dewa, atau turunan kyai gimbal yang menyebarkan Islam di Dieng, dan masih banyak lagi versi-versi cerita rakyat di sini. Untuk memotong rambut gimbal tersebut ada ritualnya tersendiri. Haha kami memutuskan untuk mencari anak tersebut namun ia sudah menghilang berlari dan bermain dengan temannya memasuki gang-gang di samping rumah penduduk desa. Lelah membuat kami membeli beberapa makanan ringan di sebuah warung yang kebetulan menjadikan kami sebagai tamunya. Lumayan pak Syukur (pemilik warung) memberikan air panas dari termos yang dapat menghangatkan perut. Setelah berpamitan kami menuju sumur Jala Tunda dan telaga Merdada. Kebetulan ada mobil petani yang lewat dan memberi tumpangan sampai persimpangan jalan menuju telaga Merdada. Begitulah seterusnya perjalanan kami di hari kedua ini total menumpang tiga kali. Lumayan menghemat tenaga, hehe...
 Menuju telaga Merdada, sekaligus mencari rumah seorang teman yang berada dekat dengan telaga tersebut, sesampainya di telaga itu dan menikmati pemandangan sekejap langsung kami menuju rumah temanku. Tidak mudah namun tidak sulit juga karena ternyata ada tukang jual bakso yang mengenalnya walau pada awalnya ia tidak kenal, “pak kenal dengan arini gak? Rumahnya ya di desa Karang Tengah ini.” Awalnya ia tak mengenalnya tapi setelah kami sholat dhuhur kami bertemu lagi dan ia memberitahu rumahnya. Munum teh hangat dan makan kue menjadi hidangan yang nikmat di hawa yang dingin ini. Bercengkrama, bersenda-gurau membuat rasa lelah hilang sesaat hingga akhirnya kami harus pergi dan kembali ke Yogyakarta. Sebelum menuju Yogyakarta kami transit bus di Wonosobo terlebih dulu. Nah ini waktunya membeli beberapa oleh-oleh asli Dieng seperti buah Carica dan Purwaceng sekaligus  menikmati makanan khas Wonosobo yaitu, Mie Ongklok. Bus jurusan Semarang tiba menjemput dan kami akan turun di terminal Secang Magelang lalu ke terminal Magelang. Wah di sinilah aku berdebat dengan seorang pemilik mobil Cold yang menawarkan harga dua kali lipat lebih mahal untuk menuju terminal Jombor Yogyakarta karena bus sudah habis untuk jurusan Yogyakarta. Pilihannya tidur di terminal atau mencari teman dan saudara untuk dimintai pertolongan. Seingatku aku mempunyai keluarga di Magelang dan aku menghubunginya sampai kami dijemput dan menginap di rumahnya sampai hari esok kami kembali menuju Yogyakarta. Sungguh perjalanan singkat namun takkan terlupakan. Satu pelajaran traveling ku dapat, “jangan mencari bus jurusan Yogyakarta di terminal Secang dan Magelang di atas jam sepuluh malam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Kite Runner, the meaning behind the words.

Aku Mencintaimu

Climbing Semeru mountain